Mengenal Arang lebih Jauh

Mengenal Arang lebih Jauh

Secara fisik, araang umumnya berwarna hitam hal ini karena arang berasal dari sisa pembakaran atau residu. Bahkan saat ini malah bukan sisa, malah sengaja di sisakan untuk dari kayu, sekam atau batok kelapa untuk di jadikan arang.


Arang bisa dari kayu, bisa dari sekam juga bisa dari batok kelapa atau tempurung kelapa. Namun akhir-akhir ini arang sudah jarang orang menyebutnya. Bahkan pemakaiannya bukan lagi hal yang utama. Dahulu penggunaan arang sebagai bahan bakar utama saat masak atau saat mengolah hal-hal tertentu misalnya proses pemanasan membuat tahu atau pabrik-pabrik yang lain.

Saat ini arang baru nyaring terdengar dan disebut hanya pas kalau Hari Idul adha atau idul Korban datang dan ketika hari raya idul fitri atau pas ketika natal dan tahun baru, untuk pesta bbq menjelang awal tahun. Dan saat banyak daging di bagi-bagi.
Saat idul adha permintaan arang melonjak tinggi. Pasalnya, orang beramai-ramai menyate daging kambing atau sapi yang dibagikan rata kepada masyarakat dari orang-orang yang berqurban.

Apakah arang benar-benar sudah tamat riwayatnya? Di dalam negeri mungkin iya, tapi di Arab Saudi arang malah menjadi primadona. Arang menjadi komoditas yang sangat laku, sebab orang di Arab lebih suka dan malah dianjurkan memasak makanan menggunakan arang. Padahal, siapa yang tidak tahu kalau negara ini kaya luar biasa dengan sumber daya alamnya. Minyak dan gas.
Jika di Indonesia sekarang terbatas hanya pada restoran-restoran atau rumah makan yang menggunakan arang misalnya penjual sate, penjual nasi goreng anglo, dll.

Sedangkan di Arab saudi kaya minyak dan gas namun tidak mampu memproduksi arang. Maka diliriklah Indonesia untuk menyuplai arang. Belum lama ini,  pengusaha Arab Saudi mengimpor arang kayu (woodcharcoal) Indonesia senilai USD 197.808 atau Rp 2,67 miliar.

Nah ini artinya arang adalah peluang yang sangat besar sekali dalam hal ekspor, hanya saja kita juga harus mampu memantaskan diri jika akan ekspor karena khalitas arang ekspor tentunya grade nya lebih tinggi dari pada grade pada pasar lokal.

Selain itu juga penebangan pohon sebagai bahan baku arang juga harus di tata dan di kendalikan, harus ada penghijauan secara berkala agar regenerasi pohon sebagai bahan baku arang juga terjaga keberadaannya.

Meskipun memiliki cadangan migas yang besar, masyarakat Arab Saudi sangat menghargai cita rasa makanan yang diolah dengan standar proses yang tinggi dan sangat menghindari sisa pembakaran dari bahan bakar yang berasal dari fosil. Oleh karena, itu makanan khas di daerah jazirah Arab seperti nasi kebuli, nasi bukhori, nasi briani, dan nasi mandi lebih banyak diolah dengan menggunakan pembakaran dari arang kayu.

Arang kayu merupakan salah satu komoditas ekspor nonmigas yang terbuat dari bahan dasar kayu. Arang kayu ini digunakan secara luas sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak baik untuk keperluan rumah tangga, restoran, dan perhotelan. Pada saat digunakan sebagai bahan bakar, arang kayu dapat menghasilkan bara api yang sempurna dimana sisa hasil pembakaran berupa karbon dioksida dan asap yang minimal sehingga dapat menghasilkan kualitas masakan dengan cita rasa maksimal.

Permintaan ini meningkat sejak menjelang datangnya bulan Ramadan lalu. Sebenarnya pada pasar lokal juga meningkat pada saat menjelang lebaran haji dan lebaran idul fitri.

Sudah menjadi kebiasaan warga Arab Saudi untuk meningkatkan ibadah sehingga kebanyakan masyarakat Arab Saudi tidak memasak sendiri di rumah dan lebih banyak menggantungkan pada restoran-restoran yang menyediakan makanan untuk berbuka puasa maupun untuk keperluan sahur. Ini artinya permintaan bahan bakar arang kayu meningkat pesat.

Dan sekali lagi itulah peluang, bukan hanya bagi segelintir pengusaha namun sebenarnya berpeluang besar bagi negara.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengenal Arang lebih Jauh"

Post a Comment